Siapa Oknum Penumpang Gelap pada Pilpres 2019, yang disebut Prabowo Manfaatkan Dirinya?

Wartapembaruan.com – Uneg- uneg yang disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad berkisah soal ada penumpang gelap pada Pilpres 2019 yang kerap menyudutkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gerindra.

Prabowo kesal karena ulah para penumpang gelap itu. Prabowo adalah calon presiden nomor urut 02 pada Pilpres 2019. Mantan Danjen Kopassus itu, kata Dasco, ingin membuat para penumpang gelap tersebut gigit jari.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F Silaen sampaikan, menarik untuk dicermati perkembangan politik kekinian, pasca rangkaian pertemuan penting hingga kehadiran Prabowo di Kongres V Bali, sekarang mulai terkuak pihak-pihak yang selama ini, diduga memboncengi Prabowo, “ucap Silaen kepada Wartawan di Jakarta.

Diawal-awal mungkin saja pendiri partai kepala garuda itu tidak menyadari bahwa ia sedang dimanfaatkan/ diboncengi. Namun entah kenapa baru sekarang baru diketahui oleh sang Capres. Disatu sisi ada baiknya kayak film India dimana pendekar slalu menderita dibabak awal-awal film mulai, artinya meski kelihatan terlambat untuk menyadari hal itu, namun lebih baik daripada tidak sadar-sadar ‘kan begitu’ kalau prabowo selama ini hanya dimanfaatkan oleh oknum-oknum tersebut, “beber Silaen aktivis organisasi kepemudaan ini.

Baca Juga:  Diskualifikasi Jokowi, Pemilu Ulang dan Buah Semangka Berdaun Sirih?

Tentu Ini jadi problem besar, jika partai Gerindra tidak menuntaskan sendiri ‘problem’ itu maka oknum penumpang gelap tersebut akan slalu mencari tumpangan/ boncengan baru, semisal figur kendaraan lain untuk diboncengi lagi, “urai Silaen alumni Lemhanas Pemuda I 2009.

Hal ini sangat mencemaskan masa depan bangsa ini, jika hal ini tidak ‘diputus’ artinya dituntaskan oleh gerindra, siapa oknum penumpang gelap yang dimaksud tersebut, kata Silaen, ini akan jadi bola liar ditengah kehidupan berbagsa dan bernegara, itu akan menimbulkan kecurigaan yang berkepanjangan yakni saling curiga yang berkelanjutan diantara para elite bangsa ini. Ini juga akan menguras energi yang ada.

Lanjut Silaen, jika ambil contoh, ibarat penyakit kronis yang sudah menjangkiti organ tubuh tertentu semisal kakilah, karena sudah tidak bisa disembuhkan, artinya divonis sudah tidak bisa lagi disembuhkan maka daripada ‘virusnya’ menyebar ketempat lain yang mematikan maka lebih baik segera ‘diamputasi’ karena jika tidak segera diamputasi maka ‘penyakitnya’ akan menyebar dan menjangkiti seluruh tubuh, lalu mati!

Demikian juga ‘virus’ ideologi trans nasional yang belakangan ini menguat ditengah masyarakat bangsa ini sangat mungkin berujung pada kehancuran negeri ini. Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali suku bangsa. Selain itu negara ini juga memiliki 6 agama resmi dijalankan secara berdampingan. Itulah Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan Indonesia. Sayangnya dalam beberapa hal, keberagaman ini justru menjadi masalah yang sangat besar. Bahkan bisa memicu suatu bentrokan hingga perang. “ujar Silaen.

Baca Juga:  Catatan Pinggir Aktivis, Jelang Kongres V "Partai Moncong Putih" di Bali

Saya pribadi sarankan, sebaiknya partai gerindra mau membuka saja oknum yang dimaksud sebagai penumpang gelap tersebut, agar oknum itu tidak mencari lagi tempat atau orang yang akan diboncenginya.

Masalah seperti ini harusnya bisa diselesaikan dengan baik. Dengan begitu di kemudian hari tak akan bermunculan kasus yang sama, yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara ini. Disamping itu TNI- Polri harus tegas menegakkan aturan yang ada tanpa pandang bulu, agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Akar masalah ketidakadilan juga dapat memicu disintegrasi sosial, “papar Silaen pengamat sosial- politik zaman now.

Apabila terjadi pembiaran masalah yang tak kunjung mendapatkan kejelasan ditengah masyarakat, ini ibarat sedang menumpuk bara api, yang suatu saat pasti akan meledak. Negara ini milik kita bersama, milik kita semua, yang harus kita jaga sampai kapan pun, jika ada masalah, mari diselesaikan lewat jalur- jalur konstitusi yang telah tersedia, “tutup Silaen akhiri pembicaraan.