PLTA Batang Toru Ramah Lingkungan Dan Satwa, Tidak Benar Adanya Tuduhan Penganiayaan Orangutan

Firman Taufick Communications and External Affairs Director PT. North Sumatera Hydro Energy(NSHE)

Wartapembaruan .com, Jakarta - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru merupakan solusi energi bersih , yaitu komitmen Indonesia mengenai perubahan iklim pada perjanjian Paris (Paris Agreement) 2015. PLTA Batang Toru juga berkomitmen melindungi Orangutan di luar kawasan konservasi dan kawasan sekitar area kerja PLTA di Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Agar lebih efektif PLTA Batang Toru bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam(BKSDA) dan kelompok- kelompok lingkungan hidup termasuk organisasi Internasional PanEco.

Untuk menjelaskan tentang tuduhan adanya penganiayaan terhadap orang utan yang terjadi di kawasan Ekosistem Batang Toru baru- baru ini, digelar konferensi pers di sebuah kafe di Jakarta Pusat, Minggu (22/09/2019). Hadir sebagai pembicara Firman Taufick selaku Communications and External Affairs Director PT. North Sumatera Hydro Energy(NSHE), Senior Adviser on Environment and Sustainability PT.North Sumatera Hydro Energy Agus Djoko Ismanto, Biodiversity Expert of NSHE Barita Manullang serta pengamat lingkungan hidup Emmy Hafild.

"Tidak benar apa yang dituduhkan pada PLTA Batang Toru tentang penganiayaan Orangutan, kami bahkan siap membantu bila ada penyelidikan mengenai kasus ini, selama ini kami terus berkoordinasi dengan BKSDA, kelompok- kelompok lingkungan hidup dan masyarakat," papar Firman Taufick saat konferensi pers.

" Kehadiran PLTA Batang Toru justru sangat penting karena turut menjaga kelestarian hutan/bumi dari ancaman perubahan iklim. Proyek ini adalah upaya nasional dalam mengurangi pemanasan global melalui pengurangan emisi karbon, suatu implementasi dari perjanjian Paris yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dalam UU No.16/2016. Pembangkit listrik tenaga air Batang Toru diatur untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon sebesar 1,6 - 2,2 MTon pertahun atau sekitar 4% dari target nasional dari sektor energi atau setara 12,3 juta pohon," imbuh Firman.

Agus Djoko Ismanto juga mengatakan ada beberapa langkah nyata yang dilakukan PLTA Batang Toru dalam melindungi Orangutan seperti membentuk tim monitoring bersama, melaksanakan kebijakan zero toleran terhadap perburuan pada seluruh pekerja pengaman satwa yang hasilnya zero accidence satwa di areal proyek. Kegiatan monitoring juga diperkuat untuk menerapkan 'Smart Patrol'. Smar Patrol akan memiliki call center dan petugas maupun relawan yang dapat melaporkan secara berkala dan relevan.

Setiap kejadian akan dilaporkan langsung melalui foto dan video. Merekrut ahli Orangutan dan menanam pakan di area koridor, perusahaan juga akan menangani konflik satwa diluar areal PLTA dengan mendukung rehabilitasi kebun warga yang terganggu oleh satwa serta membuat jembatan penghubung untuk perlintasan satwa yang terpisah dengan habitatnya.

" PLTA Batang Toru juga memberi penyuluhan pada masyarakat bagaimana cara menangani Orangutan yang masuk ke kebun warga tanpa menembaknya," ungkap Agus.

Emmy Hafild sebagai pengamat lingkungan juga menyampaikan bahwa upaya menjaga kelestarian Orangutan dan pembangunan PLTA Batang Toru jangan dibenturkan karena keduanya bisa saling harmoni untuk kelestarian lingkungan.

Perusahaan ini sudah ada sejak tahun 2004, dan mempunyai dampak positif terhadap lingkungan sekitarnya jika dibandingkan dengan perkebunan maupun pertambangan emas yang ada disana. Penanganan Orangutan dikawasan ini harus dilakukan dengan strategi perlindungan satwa langka yang berada di luar kawasan konservasi. Kegiatan ekonomi masih dapat dilakukan dengan dampak minimal terhadap Orangutan, bukan dengan melarang kegiatan ekonominya.

(Fri)

Penulis:

Baca Juga