Pemindahan Ibukota Negara Dari Tanah Betawi ke Kalimantan Timur Mendapat Respon dari Putra Asli Keturunan Betawi

Foto : Bintang Wahyu Saputra, Putra Asli Keturunan Betawi,

Jakarta, WPcom – Pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur mendapat tanggapan dari si ‘empu’ nya Jakarta, yakni suku Betawi. Seperti yang diungkapkan oleh Bintang Wahyu Saputra, putra asli keturunan Betawi, berkata silahkan jika memang pemerintah menganggap Jakarta sudah tidak layak untuk dijadikan ibukota dan ditambah dengan alasan pemerataan pembangunan.

“Silahkan ibukota dipindahkan ke Kalimantan. Apapun alasannya, tapi seharusnya pemerintah perlu tahu sejarah,” katanya kepada wartawan di Matraman, Jakarta Timur, Kamis (5/9).

Pemerintah, lanjut Bintang, seharusnya berpikir terkait pemindahan ibukota. “Jangan seperti ‘kacang lupa kulitnya’. Pemerintah jangan mengabaikan tanah Betawi yang banyak memberikan sumbangsih terhadap negara ini,” tukas Bintang.

Bintang menambahkan suku dan budaya Betawi telah banyak memberi sumbangsih besar bagi negara. Namun, kondisi sekarang, Bintang berani klaim jika kondisi Jakarta saat ini sangat memprihatinkan, ekosistem laut, dan alamnya rusak.

“Selama ini kami keturunan asli betawi selalu diam dan cukup mengalah, miris jika kita melihat budaya dan suku Betawi yang sudah terpinggirkan hari ini. Ditambah lagi polusi air, udara, sampai masalah kemacetan serta banjir yang tidak kunjung selesai,” tegasnya.

Baca Juga:  Digugat Kivlan Zen soal Pam Swakarsa, Ini Respons Wiranto

Bintang berujar bahwa kami diam bukan berarti kami bisu atau tidak mau tau, kami diam selama ini karena kami memperhatikan, tapi kalau pemerintah memperlakukan tanah betawi seperti, habis manis sepah dibuang.

“Hari ini kami nyatakan kami akan lawan, sudah saatnya kami angkat bicara,” tegas Bintang.

Menurut Bintang, kebijakan pemindahan ibukota ini terkesan lebih kepada menghindari masalah, bukan mencari solusi. harusnya persoalan yang ada di Jakarta sekarang, tidak serta merta menjadi alasan untuk pindah. Kota ini sangat bersejarah pungkasnya.

Lebih lanjut bintang menyampaikan  sila ke lima keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia merupakan isapan jempol belaka, 74 tahun Indonesia merdeka, masyarakat Betawi tidak pernah merasakan kekhususan dari Ibu kita negara Indonesia.

“Kami tidak pernah merasakan keistimewaan walaupun Jakarta menjadi pusat perekonomian dan pemerintah, dari segi pendidikan, ekonomi, kesehatan sampai pekerjaan, jujur semua ada di Jakarta tapi kami bayar sendiri pakai uang kami dan usaha kami sendiri, jadi jangankan hal itu pemerintah untuk memperhatikan kearifan lokal Betawi aja tidak ada keseriusan, buktinya suku budaya dan masyarakat keturunan Betawi semakin tertinggal dan terlupakan,” paparnya.

Baca Juga:  Kepala BNN Hadiri Family Support Group di Lido Bogor

Bintang meminta pemerintah untuk lebih memikirkan perasaan masyarakat Jakarta dengan menanyakan pendapat masyarakat keturunan Betawi atas pemindahan ibu kota negara dan tidak meninggalkan kesan melupakan perjuangan dan keikhlasan masyarakat Betawi yang tanahnya sudah menjadi ibu kota selama 74 tahun Indonesia merdeka.

“Tanah Betawi harus diperbaiki terlebih dahulu oleh pemerintah pusat dan kesejahteraan masyarakat Betawi seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi harus lebih diperhatikan, jangan sampai kami mengecap pemerintah saat ini seperti kompeni yang menjajah lalu ditinggalkan tanpa memikirkan aspek lingkungan dan manusia didalam kota atau negara,” tutupnya.