Opini Tongat, Mahasiswa Program Doktor UINSU

Menelusuri Ilmu Dengan Model Berpikir Sistemik

Tongat. (Mahasiswa Program doktor UINSU)

Oleh: Tongat.

(Mahasiswa Program doktor UINSU)

Di dalam kajian pemikiran Islam terdapat beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan. Setidaknya ada tiga model sistem bepikir dalam Islam, yakni burhani, bayani, dan irfani., yang masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda tentang pengetahuan.
Hadirnya tulisan  ini akan menyajikan mengenai model-model sistem berpikir dalam pendidikan, yang di dalamnya akan membahas lebih detail mengenai burhani, bayani, dan irfani.

Islam mengakui bahwa manusia terdiri atas jasmani dan rohani. Dalam Alquran dan hadis, diketahui bahwa potensi-potensi mengetahui panca indra, akal dan hati merupakan subsistem dari rohani manusia. Artinya, ruhani menjadi penting dari jasad tatkala Islam memberikan paparan mengenai hakikat ilmu. Kemampuan panca indra, akal dan hati bukan berasal dari jasmani, tetapi dari jiwa manusia, dan ilmu merupakan makanan bagi jiwa. Jasad tidak dapat menerima dan mengembangkan ilmu.

Dalam tradisi Islam, sumber sejati ilmu adalah Allah Swt. karena Dia adalah al-Alim. Kemudian ilmu Allah Swt. diberikan kepada manusia melalui dua cara utama, secara langsung dan secara tidak langsung. Secara langsung, Allah Swt. memberikan manusia beragam ilmu melalui Wahyu yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Sedangkan secara tidak langsung, Allah Swt memanifestasikan ilmunya dalam alam semesta, baik dalam fisik maupun alam non fisik. Jadi, Wahyu dan alam adalah sumber-sumber ilmu dalam Islam.

Dalam hal ini, umat Islam diperintahkan untuk menggali ilmu dari kedua sumber itu dengan tujuan mendapatkan pengetahuan tentang sumber sejati ilmu (syahadah/bertauhid). Untuk memperoleh ilmu tersebut tentunya dibutuhkan beberapa model. Dalam kajian epistemologi keilmuan Islam, ada tiga model yang digunakan sebagai sarana untuk memperoleh ilmu pengetahuan, yaitu modelbayani,burhani, dan irfani. Untuk lebih jelaskan penulis akan menjelaskan lebih rinci dibawah ini.

Epistimologi Bayani, Burhani dan Irfani

Bayani:

Bayani adalah model pemikiran khas arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash) secara langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran secara tidak langsung, berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya tetapi tetap harus bersandar dengan teks.

Dengan demikian sumber pengetahuan bayani adalah teks (nas)yakni al-Qur’an dan hadis. Karena itulah epistimologi bayani menaruh perhatian besar dan teliti pada proses transmisi teks dari generasi ke generasi. Ini penting bagi bayani karena sebagai sumber pengetahuan benar tidaknya transmisi teks dipertanggung jawabkan, berarti teks tersebut benar dan bisa dijadikan dasar argumen.

Sebaliknya, jika tramisinya diragukan maka kebenaran teks tidak bisa dipertanggung jawabkan dan itu berarti dia tidak bisa dijadikan landasan argumentasi. Karena itu juga mengapa pada masa tadwin (kodifikasi) khususnya kodifikasi hadis para ilmuwan begitu ketat dalam menyeleksi sebuah teks yang diterima.

Berdasarkan hal tersebut bahwa bayani berkaitan dengan teks, maka persolan pokoknya adalah sekitar lafal makna dan usul-furu”. Misalnya apakah suatu teks dimaknai sesuai konteksnya atau makana aslinya (tauqifi), bagaimana menganalogikan kata-kata atau istilah khusus dalam al-asma, al-syar’iyyah, seperti kata salat, puasa, zakat.

Selanjutnya untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, modelbayani menempuh dua jalan pertama berpegang pada redaksi (lafal) teks dengan menggunakan kaidah bahasa Arab seperti nahwu dan sorof. Kedua, berpegang pada makana teks dengan menggunakan logika, penalaran atau rasio sebagai sarana analisa. Pada jalan yang kedua pengguna logika dilakukan empat macam cara:

Berpegang pada tujuan pokok (al-muqasid al-dlaruriyah) yang mencangkup lima kepentingan vital, yakni menjaga keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta caranya dengan menggunakan induksi tematis dan disitulah tempat penalaran rasional.

Berpegang pa ‘illa teks untuk menemukan dan mengetahui adanya’illa suatu teks ini digunakan sebuah sarana yang memerlukan penalaran yang disebut “jalan ‘illat” (masalik al-illah) yang terdiri atas tiga hal ‘illa yang telah ditetapkan oleh nas seperti ‘illat tentang kewajiban mengambil 20% harta fa’t (rampasan) untuk fakir miskin agar harta tersebut tidak beredar dikalangan orang kaya saja. ‘illat yang telah disepakati oleh para mujtahid, misalnya ‘illat menguasai harta anak yang masih kecil adalah karena kecilnya. (3) al-sibr wa al-taqsim (trial) dengan cara merangkum sifat-sifat baik untuk dijadikan ’illat pada asal. Kemudian ‘illat itu dikembalikan kepada sifat-sifat tersebut agar bisa dikatakan bahwa ‘illat itu bersifat begini begitu.

Berpegang pada tujuan sekunder teks. Tujuan sekunder adalah tujuan yang mendukung terlaksannya tujuan pokok. Misalnya, tujuan pokok adalah memberikan pemahaman materi kuliah pada peserta didik tujuan sekunder memberikan tugas. Adanya tugas akan mendukung pemahaman kuliah yang diberikan.

Berpegang pada diamnya syar’i (Allah dan rasul) ini untuk masalah-masalah yang sama sekali tidak ada ketetapannya dalam teks dan tidak bisa dilakukan dengan cara qiyas.

Caranya dengan kembali pada hukum pokok (asal) yang telah diketahui. Misalnya hukum asal muamalah adalah boleh (al-ashl fi al-mu’amalah al-ibahah), maka jual beli lewat internet yang tidak ada ketentuanya berarti boleh, tinggal bagaimana mengemasnya agar tidak dilarang. Model ini melahirkan teori istishab, yakni menetapkan sesuatu berdasarkan keadaan yang berlaku sebelumnya selama tidak ditemui dasar atau dalil yang menunjukkan perubahannya.

Burhani:
Berbeda dengan bayani yang berkaitan dengan teks suci, burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks. Burhani menyandarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan menggunakan dalil-dalil logika perbandingan ketiga epistimologi ini adalah bahwa bayani menghasilkan pengetahuan melalui analogi furu’ kepada yang asal, irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Allah swt, burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya.

Dengan demikian, sumber pengetahuan burhani adalah rasio, bukan teks atau intuisi. Rasio inilah yang memberikan penilaian dan keputusan terhadap informasi yang masuk lewat indera. Selanjutnya, untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, burhani menggunkan aturan silogisme. Derajat di bawah silogisme burhani adalah silogisme dialektika, yang banyak dipakai dalam penyusunan konsep teologis. Silogisme dialetik adalah bentuk silogisme yang tersusun atas premis-premis yang hanya bertarap mendekati keyakinan, tidak sampai derajat menyakinkan seperti dalam silogisme demostratif (burhani).

Materi premis silogisme dialektik berupa opini-opini yang secara umum diterim (masyhurat), tanpa diuji secara rasional. Karena itu, nilai pengetahuan dari silogisme dialektika tidak bisa menyamai pengetahuan yang dihasilkan dari model silogisme demonstratif (burhani). Ia berada di bawah pengetahuan demonstratif.

Implementasi burhani dalam proses pembelajaran ditandai dengan tafakkur (pengembaraan potensi pikir), ta’aqqul (pengintegrasikan antara fikiran dan perbuatan) tadabbur (memperhatikan konsekuensinya), dirayah (berdasarkan pengetahuan yang telah ada), tafaqquh (menelaah mendalam realitas yang ada).

Menurut konsep Islam, kemampuan dasar atau pembawaan itu dapat disejajarkan dengan istilah fitrah. Secara etimologis kata fitrah berarti asal kejadian, bawan sejak lahir, jati diri, dan naluri manusiawi. Dari segi terminologis Islam, sejumlah interprestasi terhadap kata fitrah dalam Alquran dan hadis dikemukakan oleh para ahli.

Berkaitan dengan pembahasan ini, M. Arifin, mengemukakan bahwa sejumlah ayat Alquran dan Hadis, serta interprestasi ahli ilmu pendidikan islam terhadap keduanya telah memungkinkan lahirnya pandangan-pandangan yang cenderung kepada nativisme, konvergensi atau bahkan empirisme dalam ilmu pendidikan Islam.

Fitrah adalah faktor kemampuan dasar perkembangan manusia yang terbawa sejak lahir yang berpusat pada potensi dasar untuk berkembang. Potensi dasar itu berkembang secara menyeluruh (integrasi) yang menggerakkan seluruh aspek-aspeknya yang secara mekanistis satu sama lain saling mempengaruhi menuju kearah tujuan tertentu.

Menurutnya aspek-aspek fitrah terdiri dari komponen-komponen dasar (bakat, naluri, nafsu, karakter, hereditas dan intuisi) yang bersifat dinamis dan reponsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar (di mana individu berada), termasuk pengaruh pendidikan dan pusat pendidikan; formal, informal dan nonformal). Al-fitrah menurut konsep Islam dalam hubunganya dengan lingkungan ketika mempengaruhi komponen spritual manusia, tidaklah netral sebagaimana pandangan empirisme yang menganggap bayi yang baru lahir sebagi suci bersih dari pembawaan (potensi) baik buruk.

Dalam pendidikan Islam, manusia lahir dengan membawa suatu fitrah dengan kecendrungan yang bersifat permanen. Manusia pada dasarnya adalah baik atau memiliki kecenderungan asasi untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Baik menurut pendidikan islam adalah bersumber dari Allah swt, yang bersifat mutalak.

Tidak sebagaimana pandangan aliran-aliran sekuler yang berpandangan bahwa baik adalah suatu yang bersifat relatif dan bersumber pada manusia (antroposentrisme).

Dalam kaitanya dengan pendidikan, meskipun konsep tentang fitrah mirip dengan naturalisme yang menganggap manusia pada dasarnya baik, tetapi pendidikan Islam tidak berpandangan negativis dalam pendidikan. Menurut Abdurrahman saleh Abdullah seorang pendidik muslim selain berikhtiar untuk menjauhkan timbulnya pelajaran melakukan kebiasaan yang baik, karena fitrah itu tidak berkembang dengan sendirinya.

Dalam pertumbuhannya “al-fitrah” itu sendiri dapat berkembang atau berubah menurut lingkungan yang membinanya.

Dengan kata lain sesuai dengan konteks hadis bahwa kecendrungan untuk memeluk suatu agama sangat dipengaruhi oleh para lingkungan yang dalam hal ini adalah pendidikan orang tuanya, potensi yang dimiliki manusia di atas selain dimaksud sebagai “naluri keagamaan” (religion oriented) yang oleh para pakar pendidikan islam sebagai potensi “daya akal” yang telah diberikan Allah swt potensi “daya akal” tersebut sebaimana dikemukakan al-Farabi, daya akal mempunyai posisi yang paling tinggi, karena ia merupakan “basis berfikir” dalam menyusun konsepsi-konsepsi.

Lebih lanjut al-Farabi mengemukakan: penyusunan konsep tersebut tidaklah mungkin terjadi tanpa adanya “masukan informasi” dari luar (empiris) melalui pengindraan imajinasi dan kemudian proses berpikir. Karena itu, faktor empiris memegang peranan sebagai pemberi input bagi “berfungsinya” daya akal tersebut.

Berdasarkan gambaran di atas dapat ditarik satu asumsi (analogi) bahwa meskipun pengertian awal dari term “ al-fitrah” itu sendiri lebih cenderung bersifat teologis namun pengertian tersebut dapat dikembangkan kedalam pengertian secara umum, bahwa setiap anak memang telah dilahirkan dengan disertai oleh bakat atau pembawaanya sejak lahir. Bakat atau pembawaan tersebut kemudian tidak dapat terlepas dari pengaruh lingkungannya.

Di sisi lain kecenderungan nuansa teologis yang ditawarkan konsep pendidikan islam dalam memberikan pengakuan terhadap potensi manusia itu sendiri dari lingkungannya, menunjukkan bahwa pandangan tersebut mempunyai dimensi-dimensi dan implikasi yang lebih mendalam dari pandangan yang diberikan aliran Nativisme dan Empirisme.

Apabila aliran Empirisme melihat faktor “penentu” dari pengetahuan manusia adalah faktor lingkungan, dalam hal ini pendidikan dan pengalama empirik, maka konsep pendidikan islam melihat bahwa faktor tersebut hanyalah merupakan sebagai faktor penting, namun bukanlah menjadi “penentu” atau faktor satu-satunya bagi penegtahuan manusia.

Selain itu, aliran Empirisme karena latar belakang matearilisme sebagai “induk” pemikirannya, hanya melihat lingkungan terbatas pada unsur luar manusia yang terwujud dalam interaksi manusia dengan sesamanya, antara manusia dengan lingkungannya, maka ia tidak melihat bahwa terdapat unsur eksternal lainnya yang pengaruhnya melebihi sesama manusia dan alam itu sendiri yaitu kekuasaan Allah swt.

Demikian pula apabila aliran Netivisme hanya melihat potensi manusia terbatas pada faktor hereditas atau pembawaan dan bakat, maka konsep pendidikan islam lebih jauh lagi melihat bahwa dalam potensi itu terdapat pula apa yang disebut sebelumnya sebagai “naluri keagamaan”. Dengan perbedaan titik tekan, orientasi serta tujuan antara konsep pendidikan islam dan konsep yang ditawarkan dua aliran filsafat pendidikan di atas maka antara ketiganya tentu sangat sulit untuk dipertemukan.

Filsafat pendidikan islam telah menempatkan posisi manusia secara relevan dengan perkembangan internal dan hubunganya dengan asek eksternal. Faktor internal yaitu potensi yang terwujud dalam faktor hereditas dan pembawaan. Sedangkan faktor eksternal yang terwujud dalam pengaruh lingkungan ia juga bukanlah faktor yang secara “mutlak” menentukan pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan manusia tersebut.

Irfani:
Pengetahuan irfani tidak didasarkan atas teks seperti bayani, tetapi pada kasyf (tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Allah swt) karena itu penegtahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, di mana dengan kesucian hati diharapkan Allah swt akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Dengan demikian, pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahap, 1) persiapan, 2) penerimaan, dan 3) pengungkapan dengan lisan dan tulisan.

Tahap pertama persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf) seorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual setidaknya ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak; 1) taubah 2) wara’ menjauhkan diri dari segala diri dari segala sesuatu yang subhat 3) zuhd tidak tamat dan tidak mengutamakan kehidupan dunia 4) faqir mengosongkan seluruh pikiran dan harapan masa depan dan tidak menghendaki apapun kecuali Allah swt 5) sabar menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela 6) tawakal; percaya atas segala apa yang di tentukan-Nya 7) ridha hilangnya rasa ketidaksamaan dalam hati sehingga yang ttersisa hanya gembira dan suka cita.

Tahap kedua,penerima. Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam sufisme seorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Allah swt, secara illuminatif. Namun realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut keduanya bukan suatu yang berbeda tetapi merupakan ekstensi yang sama sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri begitu pula sebaliknya (ittihad) yang dalam kajian Mehdi Yazdi disebut ilmu huduri atau pengetahuan objek (self-object-knowledge).

Tahap ketiga, pengungkapan. Yaitu pengelaman mistik diiteprestasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan.

Namun karena pengetahuan irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan tentang kehadiran tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan.

Menggunakan modelirfani dalam studi filsafat pendidikan dapat dilihat dari upaya subjek dan objek pendidikan dalam melaksanakan tazkiyat al-nafs guna memperoleh ilmu ladunni, Tazkiyat al-nafs menurut bahasa yaitu Pembersihan jiwa, penyucian diri. Kata tersebut diambil dari akar kata taskiyah yaitu masdar kata saka.

Pengertisan ini berbeda dengan tathir ( mensucikan dari kotoran/najis), namun tathir masuk ke dalam taskiyah al-nafs. Sebab tazkiyah al-nafs akan didapat diperoleh melalui tathir. Penyebutan tazkiyah al-nafs didasarkan pada firman Allah SWT. yang mengilhamkan jalan fujur dan taqwa dalam hati manusia serta keberuntungan bagi orang yang mensucikan jiwanya. Pensucian jiwa dari sifat-sifat tercela dan hewani dengan membersihkan hati dari hal-hal duniawi. Ini berarti keduanya adalah sebagai upaya pengkondisian agar jiwa merasa tenang, tentram, dan senang mendekatkan diri pada Allah (ibadah).

Yang dimaksud dengan penyucian ungkapan kotoran jiwa atau penyakit hati adalah ungkapan untuk menunjukkan pada suatu kondisi psikis yang tidak baik, berdasarkan parameter agama atau akal budi (hati nurani). Jiwa yang merasakan ketenangan diistilahkan dengan al-nafs al-mutmainnah (jiwa yang tentram). Untuk mendapatkannya perlu dilakukan tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa). Yaitu mensucikan diri dari berbagai kecenderungan buruk, tercela dan hewani, serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji.

Penyucian jiwa hanya dapat dilakukan dengan melakukan pengekangan diri, kerja keras dan sungguh-sungguh.

Proses yang dilalui dalam melaksanakan tazkiyat al-nafs adalah takhliyat al-nafs, ta halliyat al-nafs dan tajliyat. Takhliyat al-nafs berarti pengosongan jiwa dari segenap pikiran yang akan mengalihkan perhatian dari zikir dan ingat kepada Allah.

Tahalliyat al-nafs ialah pengisian jiwa dengan sifat-sifat terpuji sesudah mengosongkannya dari sifat-sifat tercela.

Tajalliyat adalah tersingkapnya hijab yang membatasi manusia dengan Allah Swt, sehingga nyata dan terang cahaya dan kebesaran Allah Swt, dalam jiwa seseorang.
Membersihkan hati adalah menjauhkan kecenderungan hati akan kecintaan terhadap kenikmatan dunia dan hal-hal duniawi yang bersifat sementara dan memantapkan kecintaan kepada Allah swt. Sedangkan kotoran jiwa atau penyakit hati adalah lintasan-lintasan pemikiran yang tidak baik, seperti iri hati, merasa diri lebih baik dari yang lain (al-ujub) dan ambisius.

Proses peleburan dan pembentukan jiwa dilakukan dengan usaha sungguh-sungguh dan berkesinambungan yang disebut dengan riyadah al-nafs. Latihan jiwa sebagai sebuah model memiliki dua proses yaitu takhlalli dan tahalli.

Pada pelaksaan takhlli, seseorang harus menempa jiwanya dengan perilaku-perilaku yang dapat membersihkan dan meleburkan jiwa, seperti berzikir.

Juga harus senantiasa bersikap zuhud (tidak meterialis) wara (senantiasa berhati-hati dalam bertingkah laku), tawadu’, serta ikhlas hanya kepada Allah swt. Proses takhalliyat merupakan proses peleburan jiwa.

Semakin intensif seseorang melaksanakan proses takhaliyat akan semakin panas badan ruhaniah dan dengan panasnya zikir dan ridayatal-nafs, kotoran-kotoran jiwa akan meleleh terbakar, karat-karat jiwa akan terlepas sedikit demi sedikit. Maka akhirnya lapisan paling luar dari jiwa akan terkelupas. Sedangkan proses tahaliyat merupakan proses pembentukan jiwa, karena itu tahalliyat sebagai kelanjutan dari proses takhalliyat.

Jika seseorang telah melaksanakan proses takhalliyat maka akan mudah melaksanakan tahalliyat.Tahalliyat merupakan proses penghiasan diri (jiwa) dengan amal saleh. Secara umum melaksanakan syariat agama merupakan proses takhalliyat dan tahalliyat sekaligus. Sedangkan yang dimaksud dengan tahalliyat adalah amalan sunnah. Seperti puasa sunnah membaca Al Qur’an, shalat sunnah, taffakur di waktu sahur.

Demikian juga menjaga kesucian dan adab serta akhlak merupakan proses tahalliyat yang sangat utama karena kesucian dan ahlak mulia merupakan intinya iman.

Dalam modelridayat al-nafs amalan yang bersifat tahalliyat tersebut dapat diibaratkan sebagai bahan penambahan bahan kimia atau menghidupkan api pembakar tungku. Berperan sebagai pembuat suasana yang kondusif dan menjaga agar proses tazkiyat al-nafs ( pembersihan jiwa) dan tasfiyat al-qalb (pembersihan hati), karena pengaruh al-nafs al-hayawani (nafsu kebinatangan) akan melemah, maka daya ke-malaikatan akan menguat.

Kesimpulan:
Modelbayani adalah model ilmiah yang didasarkan atas otoritas teks secara langsung memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran secara tidak langsung memahami teks sebagai pengetahuan mentah yang perlu tafsir dan penalaran.

Modelburhani dilakukan dengan kekuatan rasi (akal) yang sebagai dalil-dalil logika. Modelburhani dalam sistem pendidikan Islam dapat mengetahui banyak hal tentang hakikat pendidikan, teori-teori pendidikan dan nilai-nilai dalam pendidikan Islam.

Modelirfani didasarkan pada kasyf (tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Allah swt). Menggunakan modelirfani dalam sistem pendidikan Islam dapat dilihat dari upaya subjek dan objek pendidikan dalam melaksanakan takziyah al-nafs guna memperoleh ilmu ladunni.

Penulis adalah:
(Dosen STAI-Darul Arafah-Lau Bakeri Deliserdang)

Penulis:

Baca Juga