Mencari Biang Kerok Pembantaian di Wamena

Kelompok Separatis TPNPB dukungan OPM di bawah pimpinan Purom Okiman Wenda. (foto: Istimewa)

Jakarta, Wartapembaruan.com - Separatis Organisasi Papua Merdeka atau OPM dikenal sudah lama membentuk milisi yang dikenal dengan nama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Saat ini, TPNPB berada di bawah Pimpinan Komando Rakyat, Purom Okiman Wenda.

TPNPB inilah yang mengultimatum orang non Papua (Perantau dan Pendatang) untuk segera pergi meninggalkan tanah Papua. Purom memberikan waktu satu bulan. Hal itu dia katakan kepada redaksi majalahwekonews yang berpusat di Papua, melalui sambungan telepon pada awal bulan September 2019.

“Orang pendatang segera pulang kampung atau ke daerah masing-masing, tinggalkan Tanah Papua, saya kasih waktu dalam satu bulan ini”. Tegas Purom lansir situs majalahwekonews, Selasa (3/9/2019).

Ancaman Pembunuhan dari TPNPB

Purom menegaskan, apabila imbauannya tidak diindahkan, maka TPNPB akan melakukan penembakan kepada siapapun termasuk tulang ojek.

"Apabila himbauan saya ini tidak mau mendengar maka kami akan tembak mereka, tidak peduli dia pengusaha sipil atau pegawai negeri. Abang Ojek juga kami akan tembak” tegas Purom.

Gilanya, Purom juga mengancam melakukan perang besar di Lanny Jaya dan Wamena. “Saya sudah imbaukan sebelumnya bahwa Daerah Lanny Jaya dan Wamena saya akan melakukan operasi perang besar-besaran. Semua pasukan sudah siap perang. Ini waktunya perang melawan kolonial Indonesia dengan Kekuatan rakyat” Kata Purom.

Ditegaskan Purom TPNPB tidak peduli berapa pasukan yang sudah di datangkan dari Makassar, dan Sulawesi, "Kami sudah siap melawan. Satu pucuk melawan Seribu pucuk senjata," kata Purom.

Kerusuhan di Wamena

Namun begitu, tidak ada penjelasan lagi dari Purom Okiman Wenda maupun dari majalahwekonews terkait dengan pembantaian warga pendatang pada tanggal 23 September 2019, siapa sebenarnya yang bertanggungjawab?

Jika menghitung dari waktu 1 bulan yang diberikan Purom, seharusnya "perang besar" yang dijanjikan Purom bukanlah kerusuhan tanggal 23 September, namun nyatanya, 32 warga Wamena terbunuh dalam insiden kerusuhan dimana sebagian korban adalah warga pendatang dan diantara kematian korban, dilakukan dengan dibakar hidup-hidup. Kekejaman yang sebelumnya tidak pernah mendera para perantau harus dialami pada bulan paling kelam ini.

Pada tanggal 23 September saat pembantaian di Wamena terjadi, majalahwekonews.com melansir, situasi Wamena makin mencekam, dampak kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, masih terus bertambah. Selain dari sisi korban jiwa, kerugian secara materil juga masih bertambah.

“224 mobil roda 6 dan 4 hangus, 150 motor, 465 ruko hangus, dan 165 rumah dibakar,” jata Kabid Humas Polda Papua, Kombes AM Kamal di Jayapura, Kamis (26/9/2019). Selain itu, terdapat 5 perkantoran hangus terbakar dan 15 lainnya rusak berat.

Pernyataan Gubernur Papua

Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe menyatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua akan mengakomodasi kebutuhan warga selama mereka masih mengungsi.

Bagi korban yang kehilangan tempat tinggal, Lukas memastikan Pemprov Papua akan memberikan bantuan. “Kami akan bantu mereka yang rumahnya terbakar, namun kita menunggu pendataan, termasuk pembangunan kantor pemerintah,” katanya.

Sedangkan jumlah korban tewas juga terus bertambah. “Total sudah 32 korban tewas sampai malam ini (Kemarin). Yang ditemukan hari ini terbakar, ditemukan di puing-puing rumah,” ujar Komandan Kodim 1702/Jayawijaya, Letkol Candra Dianto.

Sandera Dibakar Hidup-hidup

Diketahui kemudian, sedikitnya 600 warga yang menjadi korban dalam demo brutal di Wamena mengaku sempat dijadikan sandera oleh massa demonstran.

Salah seorang korban bernama Amores mengatakan, sejumlah warga dibakar hidup-hidup , umumnya yang dibakar adalah warga pendatang.

"Kami dijadikan sandera dari siang sampai malam, sekitar 10 jam. Mereka bawa parang semua, info yang kami dengar, mereka juga bawa senjata juga. Mereka minta pendemo yang diamankan polisi dibebaskan," kata Amores saat ditemui di Baseops Lanud Silas Papare Sentani Kabupaten Jayapura, lansir situs nasional, Kamis (26/9/2019).

Amores mengatakan, ratusan warga yang disandera itu, adalah puluhan bayi dan anak-anak, termasuk juga ibu hamil.

"Mereka brutal, mereka itu bukan manusia, banyak bayi, ibu hamil juga ada. Mereka bakar satu keluarga, dimasukkan dalam Honai lalu dibakar. Ada juga yang dipaksa masuk mobil lalu dibakar. Mereka biadab," ungkapnya geram.

"Bapak aparat, bantulah mereka yang ada disana, tidak aman disana, tolong bantu mereka untuk evakuasi," sambungnya.

Pertukaran Tahanan dengan 600 Sandera

Diketahui, ratusan warga yang disandera massa pendemo yang diduga ditunggangi kelompok separatis yang disebut Polri sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata, adalah warga dipinggiran kota Wamena, tepatnya di Pike (Daerah jalan Trans Papua). Saat kejadian pecah, warga hendak mengungsi ke kantor DPRD, Polres, Kodim dan Koramil yang berada di tengah kota Wamena.

Namun saat hendak mengungsi, warga malah tertahan dengan masa perusuh, yang berada di pinggir kota. Mereka dikumpulkan oleh massa perusuh di dalam satu tempat yaitu di dalam Gereja Kibaid dan Honai sebagai jaminan. Dengan tuntutan aparat keamanan membebaskan 6 orang massa perusuh yg di amankan oleh apkam.

Negosiasi dimulai sekitar pkl 12.00 berlangsung alot karena apkam juga tidak diizinkan masuk ke wilayah tersebut oleh massa perusuh karena sudah diblokade dan juga mengancam apabila Aparat Keamanan (Apkam) melintasi wilayah yang di blokade tersebut maka keselamatan masyarakat tersebut yang jadi ancaman.

Dari massa perusuh yang diizinkan melintas blokade adalah perwakilan aparat tanpa menggunakan senjata, sehingga negosiasi dilakukan oleh 2 orang negosiator perwakilan TNI/POLRI tanpa membawa senjata.

Massa perusuh terus mendesak 6 orang massa perusuh yang diamankan agar ditukar dengan 600 orang warga yang disandera dalam Honai dan Gereja. Sekitar pkl 16.30 WIT 6 orang massa perusuh yang diamankan oleh Apkam dihadirkan di tengah-tengah untuk ditukarkan dengan 500 warga pendatang.

Proses penyerahan masih saja berlangsung alot meski pun 6 tersangka massa perusuh sudah dihadirkan untuk ditukarkan.

Proses pembebasan warga tersebut belangsung dalam 2 gelombang, sekitar pukul 17.00 WIT sekitar 400 orang anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak yang disandera di hadirkan untuk diserahkan ke aparat kampung.

Kondisi saat itu sangat mencekam sehingga banyak anak-anak dan ibu-ibu yang menangis ketakutan dan banyak juga yang berdoa karena mereka tau ajal mereka sudah di depan mata.

Setelah gelombang I selesai, maka dilaksanakan penyerahan 100 warga yang masih tertahan di dalam. Setelah 1 persatu mereka melintas di blokade dan disambut haru oleh keluarga yang menunggu di seberang blokade mereka langsung dievakuasi ke dalam kendaraan.

Kelompok separatis yang didukung OPM diduga kuat sebagai biang kerok, otak dan dalang pelaku pembantaian, namun begitu tidak ada pernyataan bertanggung jawab dari Kubu OPM dan Sekutunya. (*)

Penulis:

Baca Juga