oleh

Keberadaan Pemimpin ISIS Terungkap Gara-gara Istrinya Tertangkap

Baghdad, Wartapembaruan.com –Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi tewas dalam operasi militer yang dijalankan pasukan khusus yang dipimpin AS. Kabar kematian sang pemimpin organisasi teroris paling dicari itu pun mengejutkan dunia karena Baghdadi yang dikenal licin dan sangat jarang muncul di hadapan publik.
Terakhir kali Baghdadi muncul pada April 2019 lalu melalui satu video rekaman, menjadi kemunculan pertamanya dalam lima tahun terakhir, sejak mendeklarasikan “kekhalifahan” di Irak pada 2014. Namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan Minggu (27/10) mengenai kabar tewasnya Baghdadi dalam operasi penyerbuan pada Sabtu (26/10) malam.
Lantas bagaimana keberadaan Baghdadi yang sangat dirahasiakan akhirnya bisa ditemukan? Dilansir The New York Post, terungkapnya lokasi persembunyian Baghdadi berawal dari penangkapan seorang istri dan kurir dari pemimpin ISIS itu pada musim panas.
Setelah ditangkap dan diinterogasi selama musim panas, keduanya dilaporkan mengungkapkan informasi yang memungkinkan pejabat intelijen AS, Iran dan Kurdi untuk mempersempit lokasi keberadaan Baghdadi di Idlib, Suriah barat laut, demikian dilaporkan The New York Times, mengutip sumber-sumber Amerika. Kondisi penangkapan, termasuk kapan dan di mana lokasi, serta tuduhan yang dijatuhkan kepada istri dan kurir Baghdadi itu tidak disebutkan dalam laporan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, operasi intelijen koalisi AS akhirnya berhasil melacak keberadaan Baghdadi hingga dilakukan operasi penggerebekan yang berujung pada tewasnya pemimpin AS itu pada Sabtu (26/10) malam.
AS mengerahkan 100 tentara elite dan 8 helikopter ketika menyerang Abu Bakar al-Baghdadi akhir pekan kemarin. Pada Minggu (27/10), kabar kematian Baghdadi diumumkan oleh Presiden Donald Trump dalam konferensi pers berdurasi 40 menit.
Trump mengatakan, Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi dikepung oleh pasukan AS di terowongan persembunyiannya Sabtu malam waktu setempat (26/10). Dilansir NBC News dalam tayangannya, AS mengerahkan cabang elite dari Angkatan Darat, atau Pasukan Delta, yang berjumlah 100 tentara. Mereka dibantu anjing militer diangkut oleh 8 helikopter dari pangkalan rahasia, dengan sumber internal AS mengungkapkan markas itu di Irak.
Trump menyatakan, Baghdadi memutuskan mengaktifkan bom bunuh diri, dengan tiga anak dilaporkan ikut tewas ketika tersudutkan di ujung terowongan. Diberitakan The Washington Post, presiden 73 tahun itu menyebut pengikut Baghdadi “pecundang” dan “ketakutan seperti anak anjing”. “Dia (Baghdadi) mati seperti anjing. Dia mati seperti pengecut. Dia ketakutan, berteriak dan menangis. Sejujurnya, saya rasa kondisi itu harus diungkapkan,” klaim Trump. Trump menyaksikan momen penyerangan Pasukan Delta dari Ruangan Situasi di Gedung Putih setelah bermain golf di Virginia. “Seperti menonton film,” ujar sang presiden dalam jumpa pers ketika ditanyakan soal kualitas video yang direkam pasukan AS.
Namun saat jurnalis menanyakan apakah dia mendengar sendiri teriakan maupun tangisan Abu Bakar al-Baghdadi, Trump enggan menjawab. Begitu juga dengan Menteri Pertahanan Mark Esper yang mengatakan, dia sama sekali tidak mempunyai detil kondisi aktual di lapangan. “Saya rasa presiden mempunyai kesempatan untuk menanyakannya langsung kepada komandan di lapangan terkait situasi yang terjadi,” tuturnya.
Trump melanjutkan dalam operasi yang berlangsung 70 menit itu, helikopter angkut tiba-tiba menerima tembakan dari darat. Dia juga memaparkan bagaimana Pasukan Delta menjebol dinding alih-alih masuk dari pintu depan karena khawatir sudah dipasangi perangkap. Begitu tubuh Baghdadi termutilasi karena ledakan dari bom bunuh diri, militer segera melakukan pemeriksaan DNA untuk memastikan mereka menargetkan orang yang tepat.
Presiden dari Partai Republik itu menuturkan tidak ada tentara AS yang terluka, kecuali seekor anjing militer akibat tertimpa reruntuhan. “Anjing kami, saya menyebutnya hewan yang bertalenta dan cantik, terluka dan segera dibawa kembali,” terang presiden ke-45 AS itu.
Diberitakan sebelumnya, Trump telah mengumumkan tewasnya Baghdadi melalui pernyataan yang disiarkan televisi, Minggu (27/10). Trump mengatakan operasi untuk membunuh buronan paling dicari dunia itu bisa terlaksana berkat bantuan militer Rusia, Suriah, Turki dan Irak. Operasi itu disebut total membunuh sembilan orang, termasuk petinggi senior ISIS bernama Abu Yamaan, anak-anak dan dua perempuan.
Lama menjadi buruan koalisi yang dipimpin AS, Baghdadi beberapa kali diberitakan tewas dalam beberapa tahun terakhir. Baghdadi juga diketahui jarang tampil di depan publik. Pada April 2014, dia sempat tampil dalam satu video menyerukan pengikutnya “membalas dendam” atas kematian anggota ISIS. Kemudian pada September lalu, ISIS merilis rekaman video yang diklaim berasal dari Baghdadi.
Irak Berperan
Sementara itu, Badan Intelijen Irak mengatakan telah memberikan pasukan Amerika Serikat (AS) lokasi pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Irak telah membentuk tim khusus yang bekerja selama satu tahun untuk melacak Al-Baghdadi. “Badan intelijen nasional Irak, menurut informasi yang tepat, menemukan tempat persembunyian kepala Daesh Abu Bakar al-Baghdadi,” kata Badan Intelijen Irak dalam keterangannya seperti dikutip AFP, Senin (28/10). “Atas dasar ini, pasukan AS yang berkoordinasi dengan intelijen Irak melakukan operasi militer yang mengarah pada penghapusan Abu Bakar dan mereka yang bersamanya,” tambahnya.
Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan operasi khusus oleh pasukan Amerika telah menargetkan jihadis di barat laut Suriah. Trump mengatakan pasukannya memojokkan Al-Baghdadi di satu terowongan.
Di terowongan tersebut, Al-Baghdadi meledakkan diri dengan rompi berisi bahan peledak. Tiga anak-anak juga ikut tewas. Trump mengakui beberapa negara telah berkontribusi dalam operasi itu. Dia mengatakan Irak telah melakukan “sangat baik” tanpa memberikan perincian.
Satu sumber intelijen Irak mengatakan kepada AFP mengatakan layanan itu telah melacak dengan cermat gerakan-gerakan Baghdadi di seluruh Suriah. Tapi pada akhirnya dapat menentukan lokasinya karena panggilan telepon dari salah satu dari banyak istrinya, yang bersamanya.
Sudah Tunjuk Penerus
Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi diduga sudah menunjuk penerus sebelum tewas bunuh diri dalam operasi militer AS. Abdullah Qardash, dikenal juga sebagai Haji Abdullah al-Afari, disebut ditunjuk Baghdadi sendiri pada Agustus lalu, dan disebarluaskan media mereka, Amaq.
Menurut seorang pejabat intelijen yang enggan disebutkan namanya, sangat sedikit yang diketahui dari Qardash selain fakta dia pernah mengabdi di era mendiang Pemimpin Irak, Saddam Hussein. Dilansir Newsweek Minggu (27/10), Qardash disebut akan menggantikan peran Abu Bakar al-Baghdadi sebagai penerus Pemimpin ISIS yang sudah tergerus sejak dia tewas.
Baghdadi yang diberitakan mengaktifkan rompi bom bunuh diri ketika dikepung pasukan Delta membangun “kekhalifahan” di luar Al-Qaeda. Si pejabat mengungkapkan, peran Baghdadi hanya sebatas simbolis. “Dia tak terlibat dalam operasi harian. Dia hanya berkata ya atau tidak. Tak merencanakannya,” ujar si sumber.
Detil tengah didapatkan soal apa yang terjadi di lokasi penyerbuan Baghdadi di Barisha, dan apa yang membuatnya bersembunyi di sana. Sebab, area di Provinsi Idlib itu dikenal sebagai teritori kelompok ekstremis rival, dipimpin oleh mantan sekutu Baghdadi, Abu Mohammed al-Jolani. Keduanya memanfaatkan krisis akibat invasi AS di Irak pada 2003.
Jolani disebut menolak tawaran Baghdadi untuk menggabungkan kelompok. Kelompok ISIS pun naik menjadi kelompok ekstremis yang ditakuti dunia dan menguasai sebagian Irak serta Suriah pada 2014 silam. AS pun mengumpulkan koalisi internasional, dan mulai menggempur ISIS. Iran juga mengerahkan militer untuk membantu Irak dan Suriah. Si sumber menerangkan, meski Abu Bakar al-Baghdadi tewas, kemampuan ISIS dalam menciptakan teror tidak akan berhenti begitu saja.
“Mereka telah membangunkan raksasa tidur. Tentunya mereka akan menciptakan kekacauan dan kerusuhan di negara-negara Barat,” ujarnya. Lain lagi dengan pernyataan mantan pejabat intelijen AS. Dia berkata kematian Baghdadi jelas akan memberikan efek kepada ISIS. “Jika dia sendiri memerintahkan operasi dan strategi baik melalui surat atau kurir, jelas dia mempunyai pengaruh,” terang pejabat tersebut. (AFP/dtc/New York Post/Washington Post/NBC News/kps/q/Harian SIB)
Baca Juga:  Trump "Siap" Kerahkan Militer Melawan Turki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *