Fatwa Atas Wabah Corona

Wartapembaruan.com -- "Azab (Wabah Penyakit/ thaun) yang Allah kirimkan hanya kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan Allah jadikan "thaun" sebagai rahmat bagi orang-orang beriman.

Tidaklah seseorang yang di negerinya mewabah thaun kemudian ia tetap berada disana dengan sabar dan berharap pahala. Ia tahu tidak ada musibah yang menimpanya kecuali apa yg telah Allah tetapkan bagi dirinya, serta baginya pahala seperti pahala seorang-orang yang syahid." (HR.-Bukhari).

Meluruskan apa yang sedang diperdebatkan oleh masyarakat ditengah wabah Covid 19.
Saat ini kita sedang menghadapi berbagai macam dilema, tidak hanya gelisah dengan Corona yang sedang  mencoba meretakkan tatanan sosial tetapi juga sikap manusia dalam menyikapi wabah, dan sikap ini telah menjadi suatu dilema yg tak kalah membuat semakin gelisah.

Fatwa MPU atas wabah Corona melahirkan asumsi yang tidak wajar, terutama asumsi miring di kalangan yang memperdebatkan pembatasan shalat berjamaah di setiap mesjid (wilayah zona merah Covid 19),
pembatasan shalat berjamaah di anggap sebagai upaya mendiskreditkan agama. Hingga prasangka
terhadap ulama dikalangan MPU yg dicerminkan sebagai Ulama akhir zaman (Ulama yg tidak takut kepada Allah) yg takutnya hanya kepada makhluk.

Tentu anggapan miring yg telah disebutkan diatas perlu diluruskan, dengan mengenalkan bagaimana iktibar yg sesungguhnya bagi seorang manusia ditengah wabah penyakit ini.

Banyak catatan-catatan sejarah tentang datangnya wabah penyakit di suatu negeri, catatan sejarah tersebut bisa di ambil sebagai gambaran kita saat ini dalam menyikapi tata hidup yg sedang di selimuti oleh wabah penyakit.

Sebelum musibah besar datang, bukankah banyak manusia mengundangnya.
Di ingatkan bahwa. Musibah terbesar ialah "ketika kita mendengarkan azan namun tidak bergegas untuk melaksanakan shalat berjamaah".

Kemudian setelah fatwa MPU membatasi shalat berjamaah barulah kita berteriak, "kanapa melarang shalat
berjamaah".

MPU akhir Zaman, takutnya kepada makhluk bukan kepada Allah, dan macam-macam ucapan
kegilaan lainnya.

Pada Tahun ke 18 H./561 M. Di tahun ke 6 Saidina Umar memimpin, ditahun tersebut Allah timpakan suatu ujian untuknya,

Umar dan para sahabat diuji dengan wabah penyakit mematikan (sama seperti corona yg
sedang menyelimuti kita hari ini) Dalam sejarahnya, wabah penyakit yg dikenal dengan sebutan "Tha'un 'Amawas". Sebutan Amawas merupakan nama suatu desa.

Di desa Amawaslah awal mulanya muncul wabah penyakit menular tersebut (salah satu desa di Negeri Damaskus saat itu).

Sebagai pemimpin tentu Umar harus menentukan sikap atau menetapkan suatu ketetapan terhadap rakyatnya. Umar pun menetapkan 2 ketetapan.

Pertama, Umar memerintahkan Abu Ubaidah bin al-Jarrah (Gubernur Damaskus) untuk memisah-misahkan rakyatnya, tentu dengan tujuan demi keselamatan dari wabah tersebut. Abu Ubaidah kemudian memisahkan rakyatnya setidaknya 7km lebih jauh dari tempat-tempat yg
sudah terjangkit oleh wabah (zona merah).

Kedua, Umar Membatalkan perjalananya ke Damaskus mengingat di negeri tersebut sedang terjangkit wabah penyakit yang mematikan "thaun" (seperti virus corona saat ini). Abu Ubaidah memilih berdiam di negeri

Damaskus dengan konsekuensi siap mati, dan sahabat lainya diluar Damaskus memilih berdiam di negerinya dengan mengajak serta rakyatnya untuk terhindar dari kematian karna wabah.

Kedua keputusan/ ketetapan Umar tentu sudah melalui musyawarah dengan sahabat beliau yang lainnya.

Setelah sepakat akhirnya, kedua ketetapan itu ditetapkan. Sama halnya dengan apa yang telah di fatwakan oleh MPU kita, dimana disetiap wilayah zona merah (wilayah terjangkitnya Covid 19) maka aktivitas keramaian termasud shalat berjamaah untuk ditiadakan semetara waktu.

Kemudian oleh golongan tersebut, apa yang disalahkan dari fatwa MPU.? Patut kita curigai bahwa
golongan-golongan itu adalah kumpulan orang-orang yang jarang sekali melaksanakan shalat berjamaah dan jauh dari para Ulama.

Terakhir yang bisa kita sampaikan bahwa setiap asumsi haruslah dipertimbangkan dengan bijaksana, karna asumsi yang tidak melalui pertimbangan akan melahirkan keretakan-keretakan yang lebih parah di dalam tatanan kehidupan masyarkat.

Akhirnya bukan virus Corona yang membuat kita kehilangan nyawa, namun pada akhirnya ketidakpahaman dan lisan yang tak bertuanlah yang menghilangkan nyawa kita semua.

Catatan Khatib Oleh : Walet Husaini. Imum Syiek Mesjid Baitul Huda.- Jum'at 03 April 2020.

Penulis:

Baca Juga