Dede Farhan Aulawi, Pemanfaatan Ilmu Hypnosis Dalam Pola Pengasuhan

Jakarta, Wartapembaruan.com -- Setiap orang yang menikah pada umumnya ingin segera mendapatkan momongan. Meskipun di beberapa negara luar ada juga yang menikah tetapi tidak menghendaki untuk memiliki momongan atau anak dengan berbagai argumennya.

Tetapi di Indonesia pada umumnya hampir selalu mendambakan untuk segera mempunyai anak. Bahkan tidak sedikit pasangan yang sudah lama menikah tetapi belum dapat momongan segera mengadopsi anak, karena anak dinilai sebagai bagian pelengkap kebahagiaan dan penerus tali keturunan. Persoalannya mengurus anak itu tidak selalu mudah, karena anak juga memiliki karakternya masing – masing.

Dalam beberapa kasus tidak sedikit orang tua yang menghadapi masalah karena anaknya misalnya malas, kecanduan game, suka melawan, keras kepala dan sebagainya. Merujuk fakta ini maka lahirlah apa yang disebut dengan Hypnoparenting.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang Hypnoparenting, media meminta pandangan seorang Pakar Hypnosis Dede Farhan Aulawi di kediamannya di Bandung, Minggu (10/5). Beliau sudah mendapatkan gelar Certified Hypno Therapy (CHT) sejak 17 tahun yang lalu.

Menurut Dede Hypnoparenting adalah suatu teknik dalam mengasuh anak dengan memanfaatkan teknik hipnosis. Jika melihat asal katanya, hypnoparenting merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “hypnosis” dan “parenting”. Jadi dengan menggunakan teknik hipnosis dalam mengasuh anak, kita bisa menyugesti anak untuk melakukan hal-hal positif yang diharapkan.

Disamping itu, biasanya anak juga dapat menerima pelajaran dari orangtua dengan lebih mudah.

Selanjutnya Dede juga menjelaskan bahwa teknik hipnosis bisa dilakukan dengan menggunakan pengulangan verbal dan gambaran mental agar anak bisa mengikuti sugesti-sugesti yang diberikan. Saat anak terhipnosis dengan pengulangan kata yang berkali-kali dari orangtuanya, anak juga akan merasa tenang, santai, dan tidak stres sehingga lebih mudah menerima saran dari orangtuanya. Dalam kondisi terhipnosis anak akan lebih mudah menerima saran dan masukan untuk melakukan hal-hal yang positif, termasuk meningkatkan rasa percaya diri untuk dapat mengatasi masalahnya. Ujar Dede.

“ Oleh karena itu orang tua diharapkan bisa lebih berhati – hati ketika berucap atau bertindak yang berulang – ulang di depan anaknya. Seandainya itu hal yang baik ya tentu tidak masalah, akan tetapi jika hal tersebut negatif bisa menjadi masalah. Kenapa ? Karena pada dasarnya sesuatu perkataan dan perbuatan yang diulang – ulang di depan anak, tanpa disadari akan menghypnosis sang anak sehingga ia akan menilai hal itu sebagai sebuah “kebaikan/positif”. Misalnya orang tua yang sering merokok di depan anak, secara tidak langsung orang tua sedang menghipnosis anaknya tentang rokok, bahwa rokok merupakan sesuatu yang positif. Itulah sebabnya banyak orang tua yang gagal melarang anaknya merokok, kalau orang tuanya sendiri sering merokok di depan anaknya. Kenapa anak sering sulit disuruh belajar, karena anak sering melihat orangtuanya sendiri jarang baca buku. Kenapa orang tua sulit menyuruh anaknya ibadah, karena mungkin si anak juga sering melihat orang tuanya sendiri jarang beribadah.Jadi ucapan dan perilaku orang tua bisa dianggap “contoh/ rule model” bagi anaknya, maka orangtua harus hati-hati dalam berkata atau berperilaku di depan anaknya “, jelas Dede.

Dalam praktek penerapannya, sebenarnya bisa dilakukan dengan melakukan pemilihan kata dalam membuat suatu kalimat dengan maksud yang sama. Pilihlah kata-kata yang positif ketika berbicara dengan anak, jadi perlu menghindari penggunaan kata-kata negatif. Contohnya saat orang tua meminta anak membereskan kamar tidurnya. Contoh :

Gunakan kalimat : “Sayang sekarang waktunya bereskan kamarmu supaya rapi ya”, dengan kalimat halus sambil melihat mata anak dan merangkulnya.
Jangan gunakan kalimat : “Coba bereskan kamarnya agar tidak berantakan seperti kapal pecah. Ini kamar atau kandang domba ?”

Contoh lain saat anak mau menghadapi ujian di sekolahnya.
Gunakan kalimat : ” Sayang, anak papa/mama pasti bisa mengerjakan soal ujiannya dan dapat nilai yang bagus ”. Jadi puji dan hargai serta tumbuhkan percaya dirinya.

Jangan gunakan kalimat : “ Nak, awas ya kamu harus mengerjakan soal dengan benar ya, jangan sampai dapat nilai jelek. Jangan permalukan mama di depan teman – teman mama. Kalau nilainya jelek berarti kamu bodoh, nanti bekel sekolahnya mama potong atau mama kurung di kamar seminggu ”. Coba perhatikan apa yang terjadi, anak akan mengalami tekanan mental hebat dan stress sebelum ujian berlangsung.

Bahkan ia pun akan sulit untuk belajar, karena belajar dibawah ANCAMAN yang mengerikan.

“ Adapun waktu terbaik untuk mensugesti atau menghipnosis adalah pada saat anak menjelang tidur. Karena saat anak mengantuk, kondisi otaknya sedang rileks. Kalimat – kalimat hipnosis yang positif akan lebih mudah untuk diterima oleh alam bawah sadar anak, sehingga anak lebih mudah untuk mengikuti apa yang kita harapkan. Ada baiknya juga menyelipkan “pesan/nasihat” melalui sebuah cerita yang positif, misalnya dalam cerita tersebut tampilkan sosok pribadi yang pantang menyerah, mengasihi sesama, rajin belajar, dan sebagainya. Dengan demikian alam bawah sadar anak akan mendapat gambaran positif jika dalam kehidupannya berhadapan dengan suatu masalah. Ia akan jadi anak yang tangguh, tidak cemen, sedikit – sedikit mengadu, dan lain – lain.

Terakhir para orang tua diharapkan selalu berbuat yang baik terutama saat di depan anak, sebab anak akan meniru setiap perbuatan orangtuanya. Apalagi sebagai orang beragama, kita akan melihat bahwa anak adalah amanat Allah, dan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak “, pungkas Dede mengakhiri percakapan.

Penulis:

Baca Juga